Manusia, dengan segala “atributnya” merupakan tema yang selalu menarik untuk dikaji. Betapa tidak, dengan segala keagungan dan keterbatasannya, slow but sure manusia “merangkak” menjelajah segenap ruang dan dimensi kehidupan. Bersamaan dengan itu, ketertarikan untuk mengetahui, meneliti dan mempelajari sesama telah pula melahirkan berbagai disiplin ilmu tentang manusia dan kemanusiaan.
Bukan suatu yang kebetulan bila Allah menempatkan manusia sebagai makhluk yang dinilai mampu untuk menjadi khalifah di muka bumi, kendati malaikat sempat “memprotes” keinginan itu. Untuk mempersiapkan manusia sebagai khalifah, Allah SWT telah melakukan proses pembelajaran tahap awal kepada Adam – manusia pertama – untuk memahami tentang segala sesuatu yang memungkinkannya dapat mengungguli pengetahuan iblis sekaligus malaikat (QS Albaqarah : 30) Dengan potensi pengetahuan yang sedemikian itu Dawam Raharjo menilai bahwa sesunguhnya manusia telah diberikan kemampuan berbahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi ditambah dengan pendalaman pengetahuan yang secara kontinue diasah oleh Allah, maka tidaklah berlebihan bila pada gilirannya, manusia (generasi Adam) mampu membuat suatu polarisasi yang semakin memantapkan jati dirinya sebagai khalifah fil ardhi.
Manusia adalah makhluk Allah yang sempurna, baik jasmani maupun rohaninya, yang dalam bahasa Alquran disebut dengan fi ahsani taqwim. Karena itu manusia memiliki nilai lebih dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain. Secara fisik manusia mempunyai keindahan bentuk tubuh, secara psikis manusia memiliki potensi berupa akal yang memungkinkannya secara kreatif dapat meramu ide-ide baru, yang kongkrit dan berdaya-
guna. Makalah singkat ini, tidak mungkin mengakomodasi segala aspek tentang manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tetapi paling tidak akan menyajikan konsepsi manusia dalam perspektif Alquran dan potensi-potensi dasar yang diyakini mampu mendorong dan menempatkan “makhluk manusia” kepada tempat yang layak dan terhormat. Secara lebih spesifik mengenai proses penciptaan manusia Allah menegaskan dalam surat Almu’min 12 – 14. Dari ayat ini kita mendapatkan informasi bahwa manusia (insaniyah) mengandung suatu proses perkembangan ke arah yang dapat membolehkan ia mengemban tugas sebagai khalifah di bumi, memikul tanggung jawab dan taklif dan amanah karena dialah yang khusus menerima ilmu, bayan, aqal dan pembedaan antara yang baik dan buruk, dan cobaan kebanggan karenanya ia merasa kuat, tegap dan merasa lebih tinggi dibanding makhluk Allah yang lain (Langgulung, 1992 : 290). Dengan demikian bahwa konsep al insan merupakan adalah bentuk manusia yang memungkinkannya mampu mengemban tugas khalifah.
Dari pemaparan tersebut dapatlah dijelaskan bahwa manusia baik secara proses kejadian, kemampuan untuk mendalami dan mengetahui segala sesuatu maupun kedudukannya setelah menjadi manusia dewasa memiliki potensi dan kesempurnaan sebagai makhluk Allah di muka bumi. Inilah suatu gambaran global, bagaimana Alquran mendefinisikan manusia, baik dari aspek kejadiannya maupun dari aspek potensi “kejuangannya” dalam hidup dan kehidupan. Dalam perspektif demikian tidaklah berlebihan bila Allah lalu memberikannya “mandat” untuk menjadi khalifah di bumi. Karena memang secara fisik perbedaan manusia dari binatang menurut Titus (1984) terletak pada ; Pertama sikapnya yang tegak. Sikap tegak ini membebaskan tangan manusia dan lengan untuk melakukan eksplorasi dan manipulasi. Kedua jari-jarinya yang bebas serta ibu jarinya yang mudah bergerak serta kemampuan lengannya yang berputar. Jari-jari yang fleksibel serta jempol yang mudah digerakkan memungkinkan manusia untuk menggabungkan ibu jari dengan keempat jari lainnya dapat dengan mudah menggenggam benda. Ketiga Otak dan kepalanya lebih besar, serta sistem syaraf yang jauh lebih tinggi dan sempurna. Tenggkorak manusia tiga kali lebih besar daripada tengkorak kera yang besar, tetapi tempat perkembangan yang terbesar adalah di dalam cerebrum, pusat proses mental yang lebih tinggi.
Minggu, 17 Oktober 2010
Rabu, 13 Oktober 2010
THE MAJESTIC CLOCKWORK
Kepler menemukan tiga hukum yang menjalankan sistem Copernicus dari sebuah deskripsi umum pada matahari dan planet-planet ke dalam satu formula matematika yang tepat. Pertama, orbit dari sebuah planet adalah agak bulat. ,Kedua, planet-planet tidak berjalan pada kecepatan yang konstan. Ketiga, waktu yang diperlukan untuk satu orbit adalah satu tahun, rata-rata jarak matahari dalam suatu hitungan yang pasti.
Newton menemukan kalkulus sebagai peralatan yang rahasia. Newton yakin tentang gravitasi universal dengan menghitung gerakan bulan mengelilingi bumi. Bulan merupakan simbol yang bertenaga. Newton berkesimpulan bahwa tekanan yang menjaga planet-planet pada orbitnya pasti secara resiprokal sebagai hasil perkalian dari jarak mereka dari pusat-pusat dengan putaran mereka dan bulan tetap pada orbitnya. Newton memberikan perhitungan kasar tentang periode bulan yaitu 27 ¼ hari.
Langganan:
Postingan (Atom)